Akhlak Dalam Berbisnis

Nama : Adinda Tasya Putri Maulana

NIM : 20200501051

Prodi : Marketing Communication

Universitas Esa Unggul

Akhlak Dalam Berbisnis

Islam adalah agama terakhir yang menjadi agama penyempurna dari agama-agama sebelumnya. Maka dari itu Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan menjadi pedoman bagi manusia dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari. Dari mulai aspek beribadah, aspek berosialisasi dan berteman, aspek politik, aspek berbisnis dan lain-lain. Ada aturan-aturan yang harus ditaati dan ada larangan yang harus dijauhi. Agar kehidupan kita tentram dan damai maka kita harus melakukan semua kegiatan sesuai dengan syariat-syariat islam yang telah ditetapkan. Islam secara detail mengatur kegiatan ekonomi dan bisnis, gunanya adalah untuk mempermudah manusia dalam menjalani kehidupannya dalam aspek tersebut, selain itu agar kita (yang menjalankannya) mendapat keberkahan dan menjadikan bisnis sebagai ibadah. Sebelum seseorang menjalankan suatu bisnis, Islam telah mengatur hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan hal-hal yang harus ditinggalkan dalam berbisnis. Akhlak dalam berbisnis merupakan hal terpenting dalam islam.

Definisi

Akhlak secara bahasa berasal dari Bahasa Arab, yang artinya perangai (al-sajiyah), kelakuan, tabi'at, watak dasar, dan kebiasaan. Akhlak bisa diartikan sebagai suatu tingkah laku, dimana tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik. Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu mendorong manusia untuk berbuat spontan tentang perbuatan itu (Ibnu Miskawaih). Menurut Imam al-Ghazali dalam kitab yang ditulisnya Ihya Ulum al Din mendefinisikan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan mudaah tanpa memerlukan pertimbangan.

Dalam Al-Quran, bisnis dikenal dengan istilah al-tijarah, al-bai', tadayantum, dan isytara. artinya adalah berdagang atau berniaga. Definisi bisnis dalam ilmu ekonomi adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya untuk mendapatkan laba. Atau bisnis juga bisa diartikan sebagai suatu usaha komersil di bidang dunia usaha. Baik itu di bidang industri, pertanian, komunikasi, transportasi, usaha jasa dan lain-lain. Tujuan utama bisnis sesungguhnya bukan untuk mencari keuntungan melainkan untuk memenuhi kebutuhan hidup orang lain, dan melalui itu ia bisa memperoleh apa yang dibutuhkannya.

Etika dalam Berbisnis secara Umum

Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos, yang artinya adalah adat istiadat atau kebiasaan. Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik dan dilakukan sampai menjadi kebiasaan. Maka, etika bisnis merupakan aturan yang tidak tertulis mengenai tata cara melakukan bisnis dengan baik dan benar yang mencakup segala aspek kegiatan bisnis. Etika itu sendiri berarti suatu aturan atau norma yang dipakai sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat terkait perilaku baik dan buruk. Dengan memiliki etika berbisnis, kita bisa menjadi pembisnis yang lebih dipercaya oleh orang lain, kita juga akan dijauhkan dari citra buruk, sifat licik dan penipuan. Di balik etika berbisnis yang kita lakukan dengan baik, kita akan mendapatkan banyak manfaat diantaranya yakni, kita mendapatkan citra yang baik dimata konsumen, bisnis berjalan secara aman dan nyaman, menciptakan hubungan baik antara konsumen dan pembisnis dan masih banyak lagi. Contoh etika bisnis yang harus diterapkan pada diri kita adalah jujur, dapat dipercaya, bersikap dewasa, rapih, bertingkah laku baik, sopan santun, professional, transparant, menggunakan bahasa yang baik, selalu mengucapkan terimakasih dan lain-lain.

Terdapat lima prinsip etika bisnis, yaitu :

1.      Prinsip otonomi, yaitu kemampuan manusia dalam mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri.

2.      Prinsip kejujuran, prinsip ini adalah prinsip paling problematic karena masih banyak pembisnis yang melakukan kegiatan tipu menipu demi meraih keuntungan.

3.      Prinsip keadilan, yakni menuntut agar setiap orang diperlakukan sama dalam kegiatan bisnis.

4.      Prinsip saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme.

5.      Prinsip integritas moral, yakni merupakan tuntutan dan dorongan untuk menjadi yang terbaik.

Dalam Islam, Beekun (2004 : 32-44) menyampaikan mengenai konsep-konsep filsafat etika islam adalah keesaan (tauhid), keseimbangan, kehendak bebas dan tanggung jawab. Sehingga etika berbisnis menurut islam, pertanggungjawabannya adalah di dunia dan di akhirat.

Etika Berbisnis dalam Islam

Etika berbisnis dalam islam adalah doktrin etis yang berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sudarsono menyebutkan etika-etika berbisnis dalam islam tersebut antara lain adalah Berlaku jujur (Al Amanah), berbuat baik kepada kedua orang tua (Birrul Waalidaini), memelihara kesucian diri (Al Iffah), kasih sayang (Ar Rahman dan Al Barry), berlaku hemat (Al Iqtishad), menerima apa adanya dan sederhana (Qona’ah dan Zuhud), perikelakuan baik (Ihsan), kebenaran (Shiddiq), pemaaf (‘Afu), keadilan (‘Adl), keberanian (Syaja’ah), malu (Haya’), kesabaran (Shabr), berterima kasih (Syukur), penyantun (Hindun), rasa sepenanggungan (Muwastt), kuat (Quwwah).

Dari pandangan islam, etika islam tergolong Etika Theologis. Menurut Hamzah Ya’qub, bahwa yang menjadi ukuran etika theologis adalah baik buruknya perbuatan manusia didasarkan atas ajaran Tuhan. Etika Islam mengajarkan manusia untuk menjalain kerjasama, tolong menolong, dan menjauhkan sikap iri, dengki dan dendam. Ekonomi islam bertitik tolak dari Tuhan dan memiliki tujuan akhir pada Tuhan. Sehingga, Tujuan ekonomi ini membantu manusia untuk menyembah Tuhannya yang telah memberi makan kepada mereka untuk menghilangkan lapar serta mengamankan mereka dari ketakutan serta untuk menyelamatkan manusia dari kemiskinan yang bisa membuat kita menjadi kafir dan kelaparan yang dapat mendatangkan dosa.

Para pengusaha islam adalah manusia islam yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui usaha dagang serta memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui perdagangan tersebut. Bisnis yang dilakukan sesuai sistem ekonomi islam yang dianut oleh paham Ketuhanan, yaitu perasaan dhamir atau selalu ada yang mengawasi yaitu Allah SWT. Hadirnya etika dalam berbisnis yaitu karena banyaknya pembisnis yang bermain kotor tanpa moral karena hanya mencari keuntungan semata. Maka, mereka menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan tersebut. Sementara itu, pemikiran etika bisnis dalam Islam muncul ke permukaan, dengan landasan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Ia merupakan kumpulan aturam-aturan ajaran (doktrin) dan nilai-nilai yang dapat menghantarkan manusia dalam kehidupannya menuju tujuan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Etika bisnis islam tidak jauh berbeda dengan pengjawatahan hukum dalam fiqih muamalah.

Menurut Quraish Shihab, dalam Muhammad Fauroni R Lukman, secara normatif, AlQur’an relatif lebih banyak memberikan prinsip-prinsip mengenai bisnis yang bertumpu pada kerangka penanganan bisnis sebagai pelaku ekonomi dengan tanpa membedakan kelas. Al-Qur'an seringkali menggunakan istilah-istilah dalam dunia bisnis mislanya jual beli, sewa menyewa, utang-piutang dan lain-lain. Al-Qur'an merupakan sumber ajaran yang berisi tentang nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur aktivitas-aktivitas manusia termasuk aktivitas ekonomi dan bisnis. Al-Qur’an dalam mengajak manusia untuk mempercayai dan mengamalkan tuntutan-tuntutannya dalam segala aspek kehidupan seringkali menggunakan istilah-istilah yang dikenal dalam dunia bisnis, seperti jual beli, sewa menyewa, untung rugi, dan sebagainya.

Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 111 yang artinya :

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin harta dan jiwa mereka dan sebagai imbalannya mereka memperoleh syurga. Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) Allah, maka gembiralah dengan jual beli yang kamu lakukan itu. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah ayat 111)

Maka, prinsip dasar  yang ditegaskan dalam Al-Qur'an adalah kerja dan kerja keras. Pandangan islam tentang etika bisnis harus berlandaskan pada tiga tema kunci utama yaitu Iman, Islam dan Taqwa. Di antara terma-terma bisnis dalam Al-Qur’an terdapat terma al-tijarah, al-bai’u, tadayantum dan isytara. Terma tijarah, berawal dari kata t-j-r, tajara, tajran wa tijaratan, yang bermakna berdagang, berniaga. Menurut ar-Raqib al-Asfahani dalam al-Mufradat fi qharib al-Qur’an, at-tijarah, bermakna pengelolaan harta benda untuk mencari keuntungan. Sedangkan al-bai’ berasal dari kata bai’a, yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam berbagai variasinya. Al-bai’u, berarti menjual, lawan kata dari isytara atau memberikan sesuatu yang berharga dan mengambil (menetapkan) dari padanya suatu harga dan keuntungannya.

Penutup

Kesimpulan dari semua ini adalah struktur etika dalam Al-Qur’an lebih banyak menjelaskan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran baik pada tataran niat atau ide hingga perilaku dan perangai. Maka, etika dalam Al-Qur'an tidak hanya dipandang dari aspek etika secara parsial, tetapi juga keseluruhan yang memuat kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam agama Islam. Jadi, etika berbisnis menurut islam harus dibangun dan dilandasi oleh prinsip-prinsip kesatuan, keseimbangan/keadilan, kehendak bebas, pertanggungjawaban, kebenaran, kebajikan dan kejujuran. Dan tujuan dari bisnis dalam islam tersebut bukan untuk mencari keuntungan sesaat didunia saja, tetapi juga mencari keuntungan yang mengandung hakikat baik dan berdampak baik bagi seluruh umat manusia. Etika berbisnis dalam islam juga mengacu pada sifat Rasulullah yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Kita sebagai manusia haruslah berbisnis sesuai dengan syariat islam agar kita bisa merasakan keberkahannya baik di dunia maupun diakhirat.

Komentar